Sabtu, 16 Juni 2012

@WM Lamongan ...


'makan dimana nih ???' tanyamu padaku setelah sore itu kita lelah berputar mengelilingi kota .

'terserah, aku belum begitu lapar.' jawabku yang masih merasa kenyang, karena terlalu banyak minum dari minuman yang kau beli tadi.

'aku pengen sate, kemana yaa yang enak ??' tanyamu lagi sambil terus menembus dingin dan padatnya jalanan petang itu

'aku kurang tahu dimana sate enak disini, alun-alun mungkin..' jawabku berspekulasi.

'Mmm...kita coba' lanjutmu terus memacu gas sepeda motormu, sepeda motor tua penuh kenangan.Ingin sekali ku memelukmu dari belakang, melindungi tulangku ketika dingin mulai menusuk, tapi ku urungkan niatku itu.

Iyaa, sore itu adalah sore terakhir untukku dan untukkmu tentunya, karena besok pagi kamu sudah harus kembali ke pekerjaanmu, dan akupun harus kembali ke sekolahku. Dan kita akan kembali bertemu dalam waktu yang cukup lama, setahun lagi mungkin, itupun jika Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu.

Aku adalah seorang pelajar, dan bukan di kota kelahiranku aku menuntut ilmu. Butuh 6 jam untuk sampai di kotaku tempat menuntut ilmu. Ini membuatku merasa bahwa waktu yang hanya tiga hari bersamamu adalah hari yang amat sangat berarti.

Dan kamu adalah laki-laki yang 5 tahun lebih dewasa dariku. Sedang mengumpulkan uang untuk menikah katamu. Dan bukan di kota kelahiranmu juga kamu mengais rejeki. Butuh waktu berjam - jam untuk sampai di kota itu. Dan butuh waktu setahun lagi untuk bisa bertemu denganku tentunya.

Karena tak kunjung menemui warung sate yang kau inginkan, akhirnya kau menghentikan laju kendaraanmu di depan warung makan yang menyediakan berbagai unggas bakar.

'pesan apa ??' tanyamu padaku ketika sampai di warung makan.

'bebek bakar...' jawabku. Meski tak lapar, tapi tetap aku memesan untuk menemanimu makan.

Aku tahu, kamu adalah orang yang tak boleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan berkolestrol. Aku ingat betul waktu itu, sudah ku coba untuk mengingatkanmu, tapi seperti biasa, dengan dalih 'sedikit kok...' kau mengabaikan peringatanku. Dan seperti biasa, aku hanya bisa diam dan menuruti maumu .

'aku capek hari ini ...' keluhku padamu, hal yang mungkin hampir tiap hari kau dengar dariku ketika malam hari kau menelpon untuk sekedar menanyakan kabar hari itu.

'capek jalan-jalan terus sih...' balasmu meledekku seperti biasa.

'pijit donk, tanganmu kan empuk...hehehe' pintaku sambil menarik tanganmu meletakkan di kakiku.

'kamu kurusan yaa sekarang...'sambil terus memijat kakiku.

'hehehe...massa ???capek mungkin yaa, capek mikirin kamu' jawabku setengah bercanda.

'halaaah...aku udah gede, nggak usah kamu pikirin...' jawabmu seperti biasa, ketika aku mulai menggombalimu.

aku anak manja katamu, bahkan tak hanya sekali dua kali kau mengatakanku anak manja. Tapi, memang benar, mungkin karena aku bungsu, membuatku lebih manja darimu, dan aku merasa nyaman bersamamu yang ku nilai dewasa.

'jangan manja-manja terus, kamu mesti jadi wanita mandiri, besok kalo udah kerja nggak kepake tuh manja...' wejangmu tiba-tiba.

'iya...' jawabku pasrah.

Makanan yang kau pesan datang, dan sejenak kau menghentikan memijat kakiku.

'ayoo buruan makan, nanti kita pulang kemaleman, nggak enak sama ibu..' ajakmu.

'iya...' jawabku.

Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan bebek goreng pesananmu, meski awalnya aku tak lapar, ternyata habis juga satu porsi bebek goreng dengan setengah porsi nasi. Enak rupanya makan denganmu di warung kaki lima dengan penerangan bola lampu orange.

Selesai makan kita tak langsung pulang, kau mengajakku bercerita tentang bagaimana kita harus bertahan hidup dan bagaimana rasanya bekerja. Banyak pengalaman yang kau bagi, tentang hidupmu di perantauan. Dan aku hanya menjadi pendengar setiamu.

Waktu sudah cukup malam menurutku, dan aku tak mau berlama-lama di luar, karena pasti ibu akan segera menyuruhku pulang.

'ayoo..pulang...' ajakku ketika kau selesai menceritakan tentang tak enaknya kerja.

'Mm...ayoo, udah malem juga' jawabmu sambil mengangkat gelas teh untuk kau minum.

Kau kembali mengajakku menembus padat dan dinginnya jalanan malam itu. Dan aku adalah orang yang amat menikmati perjalanan malam itu, yang mungkin tak akan ku dapati di malam lain. Setengah perjalan menuju rumahku, gerimis ikut menemani perjalanan kita. Kunikmati setiap rintik gerimis yang turun membasahi jaketmu. Rasanya aku tak ingin menyudahi perjalanan malam itu, biarlah terus seperti ini, menyusuri dingin dan padatnya malam ditemani gerimis.

Ketika sampai dirumah, kau hanya mampir sebentar, setelah pamit dengan orangtuaku, aku mengantarmu sampai depan.

'aku balik kerja yaa...' pamitmu padaku masih berdiri dihadapanku.

'iyaa, hati-hati yaa dijalan, sampe ketemu tahun depan..' jawabku, padahal ingin sekali aku mengatakan 'pulanglah 2 hari lagi, aku masih terlampaui rindu denganmu', tapi aku sadar, kita harus mengejar mimpi bersama kita dengan jalan yang berbeda. Ingin kuteteskan air mata setiap kali kau pamit untuk kembali bekerja padaku, sungguh !!saat-saat seperti ini yang tak aku suka.

Kau melangkahkan kakimu ke sepeda motormu, dan mulai menyalakan mesin motormu. Ingin sekali kuteriakkan agar kau menunda kepulanganmu keperantauan, tapi ku coba tahan teriakku itu yang sudah sampai di batang tenggorok.

'aku pulang yaa...' teriakmu sambil menarik tuas gas motormu.

'iyaa...hati2...' teriakku tak kalah keras memecah heningnya malam di rumahku.

Dan malam itupun akhirnya berakhir, sungguh hari yang tak bisa ku lupakan sampai hari ini. Terimakasih untuk bebek bakarnya, semoga kita masih bisa menikmati bebek bakar yang sama di tahun-tahun berikutnya, mengulang lagi malam yang amat sangat menyenangkan.

Oiaa,,, WM Lamongan pindah lhoo, tapi aku tahu kok pindah ke sebelah mana...hehehe

untukmu 020911

-salam-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar