'makan dimana nih ???' tanyamu padaku setelah sore itu kita
lelah berputar mengelilingi kota .
'terserah, aku belum begitu lapar.' jawabku yang masih
merasa kenyang, karena terlalu banyak minum dari minuman yang kau beli tadi.
'aku pengen sate, kemana yaa yang enak ??' tanyamu lagi
sambil terus menembus dingin dan padatnya jalanan petang itu
'aku kurang tahu dimana sate enak disini, alun-alun
mungkin..' jawabku berspekulasi.
'Mmm...kita coba' lanjutmu terus memacu gas sepeda motormu,
sepeda motor tua penuh kenangan.Ingin sekali ku memelukmu dari belakang,
melindungi tulangku ketika dingin mulai menusuk, tapi ku urungkan niatku itu.
Iyaa, sore itu adalah sore terakhir untukku dan untukkmu
tentunya, karena besok pagi kamu sudah harus kembali ke pekerjaanmu, dan akupun
harus kembali ke sekolahku. Dan kita akan kembali bertemu dalam waktu yang
cukup lama, setahun lagi mungkin, itupun jika Tuhan mengijinkan kita untuk
bertemu.
Aku adalah seorang pelajar, dan bukan di kota kelahiranku
aku menuntut ilmu. Butuh 6 jam untuk sampai di kotaku tempat menuntut ilmu. Ini
membuatku merasa bahwa waktu yang hanya tiga hari bersamamu adalah hari yang
amat sangat berarti.
Dan kamu adalah laki-laki yang 5 tahun lebih dewasa dariku.
Sedang mengumpulkan uang untuk menikah katamu. Dan bukan di kota kelahiranmu
juga kamu mengais rejeki. Butuh waktu berjam - jam untuk sampai di kota itu.
Dan butuh waktu setahun lagi untuk bisa bertemu denganku tentunya.
Karena tak kunjung menemui warung sate yang kau inginkan, akhirnya
kau menghentikan laju kendaraanmu di depan warung makan yang menyediakan
berbagai unggas bakar.
'pesan apa ??' tanyamu padaku ketika sampai di warung makan.
'bebek bakar...' jawabku. Meski tak lapar, tapi tetap aku
memesan untuk menemanimu makan.
Aku tahu, kamu adalah orang yang tak boleh terlalu banyak
mengkonsumsi makanan berkolestrol. Aku ingat betul waktu itu, sudah ku coba
untuk mengingatkanmu, tapi seperti biasa, dengan dalih 'sedikit kok...' kau
mengabaikan peringatanku. Dan seperti biasa, aku hanya bisa diam dan menuruti
maumu .
'aku capek hari ini ...' keluhku padamu, hal yang mungkin
hampir tiap hari kau dengar dariku ketika malam hari kau menelpon untuk sekedar
menanyakan kabar hari itu.
'capek jalan-jalan terus sih...' balasmu meledekku seperti
biasa.
'pijit donk, tanganmu kan empuk...hehehe' pintaku sambil
menarik tanganmu meletakkan di kakiku.
'kamu kurusan yaa sekarang...'sambil terus memijat kakiku.
'hehehe...massa ???capek mungkin yaa, capek mikirin kamu'
jawabku setengah bercanda.
'halaaah...aku udah gede, nggak usah kamu pikirin...'
jawabmu seperti biasa, ketika aku mulai menggombalimu.
aku anak manja katamu, bahkan tak hanya sekali dua kali kau
mengatakanku anak manja. Tapi, memang benar, mungkin karena aku bungsu,
membuatku lebih manja darimu, dan aku merasa nyaman bersamamu yang ku nilai
dewasa.
'jangan manja-manja terus, kamu mesti jadi wanita mandiri,
besok kalo udah kerja nggak kepake tuh manja...' wejangmu tiba-tiba.
'iya...' jawabku pasrah.
Makanan yang kau pesan datang, dan sejenak kau menghentikan
memijat kakiku.
'ayoo buruan makan, nanti kita pulang kemaleman, nggak enak
sama ibu..' ajakmu.
'iya...' jawabku.
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan bebek goreng
pesananmu, meski awalnya aku tak lapar, ternyata habis juga satu porsi bebek
goreng dengan setengah porsi nasi. Enak rupanya makan denganmu di warung kaki
lima dengan penerangan bola lampu orange.
Selesai makan kita tak langsung pulang, kau mengajakku
bercerita tentang bagaimana kita harus bertahan hidup dan bagaimana rasanya
bekerja. Banyak pengalaman yang kau bagi, tentang hidupmu di perantauan. Dan
aku hanya menjadi pendengar setiamu.
Waktu sudah cukup malam menurutku, dan aku tak mau
berlama-lama di luar, karena pasti ibu akan segera menyuruhku pulang.
'ayoo..pulang...' ajakku ketika kau selesai menceritakan
tentang tak enaknya kerja.
'Mm...ayoo, udah malem juga' jawabmu sambil mengangkat gelas
teh untuk kau minum.
Kau kembali mengajakku menembus padat dan dinginnya jalanan
malam itu. Dan aku adalah orang yang amat menikmati perjalanan malam itu, yang
mungkin tak akan ku dapati di malam lain. Setengah perjalan menuju rumahku,
gerimis ikut menemani perjalanan kita. Kunikmati setiap rintik gerimis yang
turun membasahi jaketmu. Rasanya aku tak ingin menyudahi perjalanan malam itu,
biarlah terus seperti ini, menyusuri dingin dan padatnya malam ditemani
gerimis.
Ketika sampai dirumah, kau hanya mampir sebentar, setelah
pamit dengan orangtuaku, aku mengantarmu sampai depan.
'aku balik kerja yaa...' pamitmu padaku masih berdiri
dihadapanku.
'iyaa, hati-hati yaa dijalan, sampe ketemu tahun depan..'
jawabku, padahal ingin sekali aku mengatakan 'pulanglah 2 hari lagi, aku masih
terlampaui rindu denganmu', tapi aku sadar, kita harus mengejar mimpi bersama
kita dengan jalan yang berbeda. Ingin kuteteskan air mata setiap kali kau pamit
untuk kembali bekerja padaku, sungguh !!saat-saat seperti ini yang tak aku
suka.
Kau melangkahkan kakimu ke sepeda motormu, dan mulai
menyalakan mesin motormu. Ingin sekali kuteriakkan agar kau menunda
kepulanganmu keperantauan, tapi ku coba tahan teriakku itu yang sudah sampai di
batang tenggorok.
'aku pulang yaa...' teriakmu sambil menarik tuas gas
motormu.
'iyaa...hati2...' teriakku tak kalah keras memecah heningnya
malam di rumahku.
Dan malam itupun akhirnya berakhir, sungguh hari yang tak
bisa ku lupakan sampai hari ini. Terimakasih untuk bebek bakarnya, semoga kita
masih bisa menikmati bebek bakar yang sama di tahun-tahun berikutnya, mengulang
lagi malam yang amat sangat menyenangkan.
Oiaa,,, WM Lamongan pindah lhoo, tapi aku tahu kok pindah ke
sebelah mana...hehehe
untukmu 020911
-salam-



















